Pengetahuan
dapat dibedakan atas dua macam: pengetahuan biasa dan ilmu.
Pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang dipergunakan untuk kehidupan
sehari-hari tanpa mengetahui seluk-beluk yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya, tidak mengetahui sebabnya demikian dan apa sebabnya harus
demikian. Sebaliknya, ilmu adalah pengetahuan yang tujuan utamanya
adalah untuk mencapai kebenaran: ingin tahu yang mendalam, tahu benar apa
sebabnya demikian, dan mengapa harus demikian.
Manusia
dalam memahami alam sekitar terjadi proses yang bertingkat: dari pengetahuan
(sebagai hasil tahu manusia) dan ilmu. Pengetahuan (knowledge)
adalah hasil tahu manusia yang sekadar menjawab pertanyaan “apa”.
Misalnya, apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya. Ilmu (science)
bukan sekadar menjawab “apa”, melainkan akan menjawab pertanyaan “mengapa” dan
“bagaimana”. Misalnya, mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi
berputar, mengapa manusia bernapas, dan seterusnya. Pengetahuan hanya dapat
menjawab pertanyaan apa sesuatu itu, tetapi ilmu dapat menjawab mengapa
dan bagaimana sesuatu itu terjadi. Jika pengetahuan itu mempunyai
sasaran tertentu, mempunyai metode atau pendekatan untuk mengkaji objek
tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan
diakui secara universal, terbentuklah disiplin ilmu. Poedjawijatna (2004)
mengatakan suatu pengetahuan bisa disebut ilmu jika memenuhi persyaratan
berikut: berobjektivitas, bermetodos, universal, dan bersistem.
Apakah
yang dimaksud dengan logika? Logika berasal dari kata logos (dalam
bahasa Latin) yang berarti ‘perkataan’ atau ‘sabda’. Dalam bahasa Arab dikenal
dengan kata mantiq yang artinya ‘berucap’ atau ‘berkata’. Menurut
Suriasumantri (1985), logika adalah pengkajian untuk berpikir secara sahih.
Mundiri (2000) membatasi logika sebagai ilmu yang mempelajari metode dan
hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran
yang salah (diambil dari definisi Irving M. Copi).
Mundiri
(2000) mengemukakan bahwa yang pertama kali menggunakan kata logika
adalah Zeno dari Citium. Kaum Sofis, Socrates, dan Plato tercatat
sebagai tokoh-tokoh yang ikut merintis lahirnya logika. Logika lahir sebagai
ilmu atas jasa Aristoteles, Theoprostus, dan Kaum Stoa. Logika dikembangkan
secara progresif oleh bangsa Arab dan kaum muslimin pada Abad II Hijriyah.
Logika menjadi bagian yang menarik perhatian dalam perkembangan kebudayaan
Islam. Namun, juga mendapat reaksi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Ibnu
Salah dan Imam Nawawi mengatakan haram mempelajari logika, Al-Ghazali
menganjurkan dan menganggap baik, sedangkan Jumhur Ulama membolehkan bagi
orang-orang yang cukup akalnya dan kokoh imannya.
Selanjutnya,
logika mengalami masa dekadensi (kemunduran/kemerosotan) yang panjang.
Logika menjadi sangat dangkal dan sederhana. Pada masa itu digunakan buku-buku
logika seperti Isagoge dari Porphirius, Fonts Scientie dari John
Damascenus, buku-buku komentar logika dari Bothius, dan sistematika logika dari
Thomas Aquinas. Semua berangkat dan mengembangkan logika Aristoteles.
Pada
abad XIII sampai dengan abad XV muncul Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus
Lullus, dan Wilhelm Ocham menyusun logika yang sangat berbeda dengan logika
Aristoteles yang kemudian dikenal sebagai logika modern. Raymundus
Lullus mengembangkan metode Ars Magna, semacam aljabar dengan maksud
membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi. Francis Bacon mengembangkan metode
induktif dalam bukunya Novum Organum Scientiarum. W. Leibniz
menyusun logika aljabar untuk menyederhanakan pekerjaan akal serta
memberi kepastian. Emanuel Kant me-nemukan Logika Transendental yaitu
logika yang menyelediki bentuk-bentuk pemi-kiran yang mengatasi batas
pengalaman.
Dari
paparan di atas dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut.
Ilmu adalah kumpulan
pengetahuan yang tersusun secara sistematis tentang suatu objek tertentu. Suatu
pengetahuan bisa disebut ilmu jika memiliki objek, memiliki metode, memiliki
sistem, dan universal.
Logika merupakan patokan, hukum,
atau rumus berpikir yang bertujuan menilai dan menyaring pemikiran dengan cara
serius dan akademis untuk mendapatkan kebenaran.
Ilmu
Logika
adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang
digunakan untuk berpikir secara sahih: membedakan penalaran yang benar dan
penalaran yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar