Kamis, 21 Agustus 2014

Hedonisme Merajai Kalangan Mahasiswa



“ Wanita lebih bijaksana dari laki-laki karena mereka tahu lebih sedikit tetapi mengerti lebih banyak ” (James Thurber)

            Mencoba mengungkap tentang wanita yang dibandingkan dengan pria merupakan perdebatan yang tidak akan pernah basi,layu,gak usum,dan sebagainya. Karena wanita itu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mendapati unsur estetik (keindahan) secara lahir maupun batin. Melalui unsur itulah wanita mempunyai daya tarik tersendiri bagi lawan jenisnya. Maka tidak heran jika ditengah derasnya arus modernisasi selalu memposisikan diri dibagian terdepan dalam hal pembaharuan maupun peniruan.
            Mengaku atau tidak, perempuan kerap kali menjadi pengikut terhadap dinamika perubahan, yang penting senang. Pemahaman inilah yang sudah mengajarkan kepada pengikut ataupun yang siap mengikutinya bahwa kesenangan serta kenikmatan duniawi seakan menjadi tujuan hidup dan tolak ukur gaya hidup.
            Pada umumnya pola hidup yang demikian didasarkan atas gengsi atau ego yang tertanam pada diri mereka. Dimulai dari gaya hidup yang berlebihan, baik dalam hal berpakaian, pemenuhan kebutuhan, dan sikap yang hanya mementingkan kesenangan hidup. Bahkan ada ungkapan yang sering timbul dari mahasiswa, “ mumpung masih muda, jadi enjoy sajalah…”. Padahal tidak ada yang tahu sampai kapan kita akan hidup di dunia ini,bukan..??.
            Ketika perempuan terjebak dalam budaya hedonis, maka akan melahirkan pikiran-pikiran rimas ( tidak nyaman ) dan selalu menghawatirkan suami ( bagi yang sudah bersuami ). Apalagi yang ekonominya menengah kebawah, maka batin sang suami akan sangat merasa tersiksa dan akhirnya sang suami nekat melakukan apapun demi memuaskan keinginan istri.
            Coba kita tengok mahasiswi yang saat ini sama sekali tidak mencerminkan sebagai perempuan yang idealis. Tetapi yang tampak justru malah materialis. Mahasiswi sepantasnya belajar pada sejarah perempuan tempo dulu. Perempuan yang acap kali menyuarakan perjuangan, emansipasi, dan lain sebagainya. Bukannya kok hanya memikirkan “ Saya mau jalan sama mas pacar besok pakai baju yang mana ya..??, pakai aksesoris beginian tambah cantik gak ya..?? “.
            Mengamati gaya hidup hedonis, maka tidak mungkin tidak perlahan-lahan akan terjadi disorientasi yang mengaburkan moralitas mahasiswa. Contoh yang saat ini lagi nge-trend, perempuan saat ini mengonsumsi busana muslimah. Mereka memang memakai jilbab, kerudung, atau hijab dengan gaya yang marak diTV maupun internet. Tetapi penerapan lainnya terkadang kurang tepat, maaf, ( atas berjilbab, bawah mengenakan celana ketat yang seakan mempertontonkan bongkahan pantat atau garis celana dalamnya sampai tercetak ). Biar tampak tetap seksi,katanya.
            Terkait fenomena diatas agar tidak selalu memanjakan perasaan adalah membiasakan hidup sederhana. Skala prioritas kebutuhan penting untuk dipenuhi. Hal tersebut dapat terwujud jika kedewasaan berpikir mahasiswa berani memulai dari sekarang.
            Mohon maaf, tulisan ini bukan ingin mencaci atau memojokkan personal. Akan tetapi ada baiknya jika tulisan yang sederhana ini dijadikan bahan untuk direnungkan. Selain itu juga untuk mengingatkan nasib sang suami kelak yang akan memungkinkan berbuat nekad demi memenuhi kebutuhan istri yang hedonis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar