Jumat, 02 Mei 2014

Jeritan Tengah Malam



Dinginnya angin berhembus menyapa tubuh ini. Hanya hitam dan gelap menyelimuti malam di kampung Genteng menghipnotis kehidupan dalam kesunyian yang mendalam. Kabut malam menenggelamkan sang rembulan dan bintang – bintang kedalam selimut kepekatan.
            “ Aaarrrggghhh..!! “
 Jelas terdengar suara jeritan perempuan yang sekejap mampu memecahkan keheningan malam. Suara jeritan yang nyaris serak perempuan itu begitu keras terdengar ditengah – tengah sunyinya malam.
Gojez, pemuda kampung yang malam ini sedang asyik berkarya mengoleskan tinta warna diatas kaos – kaos produksinya dengan cekatan meletakkan peralatan dari genggamannya dan segera berlari  menuju arah suara bersama teman dia nyablon. Kincli, begitu Gojez memanggilnya tampak sangat cemas dengan jeritan yang mengarah pada rumah kakaknya.
Suara teriakan yang saling bersautan membuat para penduduk kampung Genteng terbangun dari tidurnya dan semua beranjak keluar melihat situasi. Kehidupan mendadak muncul kembali malam ini di kampung Genteng, gara – gara jeritan seorang wanita.
Malam ini malam Jumat kliwon, malam dimana sebagian penduduk kampung Genteng yang berjenis kelamin laki – laki lagi sibuk berjaga di pos – pos kampling. Sudah tiga bulan lamanya tiap malam Jumat kliwon kampung Genteng diteror oleh makhluk aneh. Makhluk aneh tersebut meneror rumah – rumah penduduk dengan mencuri barang – barang berharga tanpa sepengetahuan tuan rumahnya. Dan sialnya pemilik rumah yang melihat makhluk aneh itu sedang mengambil barang – barang miliknya tak mampu berbuat apa – apa kecuali menyaksikan peristiwa tersebut, seperti terkena ilmu gendam.
Suara jeritan perempuan tadi kembali terdengar. Kincli semakin yakin kalau suara jeritan itu berasal dari rumah kakaknya, Sarmi yang baru beberapa Minggu lalu menikah. Kincli sadar suara perempuan yang menjerit – jerit adalah suara kakaknya. Kincli berlari  sangat cepat mendahului warga lainnya. Rasa cemas yang sangat membuatpemuda ini sampai di rumah kakanya. Kincli tidak ingin kakanya menjadi korban kekerasan atau malah pembunuhan makhluk aneh yang menggegerkan warga itu.
Sampai di rumah kakaknya, masih terdengar juga suara Jeritan dan rintihan yang kadang tertahan itu.
“ Mbak Sarmi, buka pintunya ..!! “, teriaknya sambil menggedor – gedor pintu rumah depan. Bukan mebukakan pintu depan, Sarmi dan suaminya si Sarmo malah keduanya semakin keras menjerit histeris. Kincli menduga makhluk aneh itu telah berada didalam rumah kakaknya. Karena saking cemasnya, Kincli mencongkel pintu itu dengan tongkat besi yang sengaja dia bawa.
Pintu depan berhasil dibuka. Kincli langsung masuk menuju ruang kamar tidur yang diduga sumber suara itu berada. Di depan pintu kamar yang remang – remang, Kincli acungkan tongkat besinya dan bertanya tergesa, “ Dimana makhluk itu..??!! “. Dengan merayapkan tangan mencari saklar untuk menyalakan lampu ruangan tersebut.
Lampu kamar menyala… “ Haaddaaauuuwww……. “ Kincli  teriak dan terbelalak matanya  melihat Sarmi dan suaminya lemas lunglai tergeletak diatas ranjang bermandikan peluh. “ heeyy.. “, serak suara Sarmi berteriak sambil sibuk mencari penutup tubuhnya, begitu pula dengan suaminya si Sarmo.
Warga kampung yg telah ikutan masuk dan melihat kejadian yang sebenarnya menghela napas panjang, sebagian menunduk  dan ada yang menjitak kepala Kincli . Kincli pun meminta maaf, lalu segera kluar bersama warga yang lain. Gojez pun berucap ditengah warga yang cekikikan bahkan tertawa terpingkal , “ Lha wong ada orang lagi rutinitas malam Jumat, kok digangguin to mas..mas....hehehe… “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar