Dinginnya
angin berhembus menyapa tubuh ini. Hanya hitam dan gelap menyelimuti malam di
kampung Genteng menghipnotis kehidupan dalam kesunyian yang mendalam. Kabut
malam menenggelamkan sang rembulan dan bintang – bintang kedalam selimut
kepekatan.
“ Aaarrrggghhh..!! “
Jelas terdengar suara jeritan perempuan yang sekejap
mampu memecahkan keheningan malam. Suara jeritan yang nyaris serak perempuan
itu begitu keras terdengar ditengah – tengah sunyinya malam.
Gojez,
pemuda kampung yang malam ini sedang asyik berkarya mengoleskan tinta warna
diatas kaos – kaos produksinya dengan cekatan meletakkan peralatan dari
genggamannya dan segera berlari menuju
arah suara bersama teman dia nyablon. Kincli, begitu Gojez memanggilnya tampak sangat
cemas dengan jeritan yang mengarah pada rumah kakaknya.
Suara
teriakan yang saling bersautan membuat para penduduk kampung Genteng terbangun
dari tidurnya dan semua beranjak keluar melihat situasi. Kehidupan mendadak
muncul kembali malam ini di kampung Genteng, gara – gara jeritan seorang
wanita.
Malam
ini malam Jumat kliwon, malam dimana sebagian penduduk kampung Genteng yang
berjenis kelamin laki – laki lagi sibuk berjaga di pos – pos kampling. Sudah
tiga bulan lamanya tiap malam Jumat kliwon kampung Genteng diteror oleh makhluk
aneh. Makhluk aneh tersebut meneror rumah – rumah penduduk dengan mencuri
barang – barang berharga tanpa sepengetahuan tuan rumahnya. Dan sialnya pemilik
rumah yang melihat makhluk aneh itu sedang mengambil barang – barang miliknya tak
mampu berbuat apa – apa kecuali menyaksikan peristiwa tersebut, seperti terkena
ilmu gendam.
Suara
jeritan perempuan tadi kembali terdengar. Kincli semakin yakin kalau suara
jeritan itu berasal dari rumah kakaknya, Sarmi yang baru beberapa Minggu lalu menikah.
Kincli sadar suara perempuan yang menjerit – jerit adalah suara kakaknya.
Kincli berlari sangat cepat mendahului
warga lainnya. Rasa cemas yang sangat membuatpemuda ini sampai di rumah
kakanya. Kincli tidak ingin kakanya menjadi korban kekerasan atau malah
pembunuhan makhluk aneh yang menggegerkan warga itu.
Sampai
di rumah kakaknya, masih terdengar juga suara Jeritan dan rintihan yang kadang
tertahan itu.
“
Mbak Sarmi, buka pintunya ..!! “, teriaknya sambil menggedor – gedor pintu
rumah depan. Bukan mebukakan pintu depan, Sarmi dan suaminya si Sarmo malah
keduanya semakin keras menjerit histeris. Kincli menduga makhluk aneh itu telah
berada didalam rumah kakaknya. Karena saking cemasnya, Kincli mencongkel pintu
itu dengan tongkat besi yang sengaja dia bawa.
Pintu
depan berhasil dibuka. Kincli langsung masuk menuju ruang kamar tidur yang
diduga sumber suara itu berada. Di depan pintu kamar yang remang – remang,
Kincli acungkan tongkat besinya dan bertanya tergesa, “ Dimana makhluk
itu..??!! “. Dengan merayapkan tangan mencari saklar untuk menyalakan lampu
ruangan tersebut.
Lampu
kamar menyala… “ Haaddaaauuuwww……. “ Kincli
teriak dan terbelalak matanya
melihat Sarmi dan suaminya lemas lunglai tergeletak diatas ranjang
bermandikan peluh. “ heeyy.. “, serak suara Sarmi berteriak sambil sibuk
mencari penutup tubuhnya, begitu pula dengan suaminya si Sarmo.
Warga
kampung yg telah ikutan masuk dan melihat kejadian yang sebenarnya menghela
napas panjang, sebagian menunduk dan ada
yang menjitak kepala Kincli . Kincli pun meminta maaf, lalu segera kluar
bersama warga yang lain. Gojez pun berucap ditengah warga yang cekikikan bahkan
tertawa terpingkal , “ Lha wong ada orang lagi rutinitas malam Jumat, kok
digangguin to mas..mas....hehehe… “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar