Rabu, 19 Maret 2014

POLITIK PENDIDIKAN ISLAM (Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi)





Oleh:

ZEIN AVERROES


Judul Buku                            : Politik Pendidikan Islam
Nama Pengarang                  : Dr. Ahmad Arifi, MA.
Nama Penerbit                      : Teras
Tahun Penerbitan                 : 2010
Jumlah Halaman                   : 176 Hal.

            Secara umum kesalahan pendidikan di Indonesia terletak pada kesalahan kelola, terbukti pada birokrasi pemerintah yang lebih bersifat inkosisten, irasional, pragmatis, otoriter dan tidak profesional. Profesional lebih dimaknai sebatas bayaran yang tinggi tanpa memperhitungkan kualifikasi, tanggung jawab dan integritas yang tinggi. Demokrasi dalam pendidikanpun hanya sebatas slogan yang tidak berarti disebabkan oleh komersialisasi pendidikan semakin menjadi, praktik monopoli terjadi pada kelompok masyarakat yang berkapital tinggi (Kelas ekonomi menengah ke atas), sehingga ideologi pendidikan yang dianut juga sering menurut akan kepentingan penguasa. 
Berangkat dari titik permasalahan di atas peran pendidikan Islam adalah sebagai kontribusi bagi pembangunan nasional khususnya dalam membentuk moralitas bangsa Indonesia. Buku ini mengupas tentang peningkatan mutu pendidikan Islam dan sekaligus kontribusi lembaga pendidikan Islam dalam membentuk moralitas bangsa Indonesia. Dalam hal ini diharapkan demokratisasi pendidikan dan penjaminan pendidikan yang bermutu tetap menjadi arah kebijakan pendidikan nasional dan segala bentuk komersialisasi atau kapitalisasi pendidikan dapat dikikis. Menurut buku ini bahwa pesantren merupakan sebuah lembaga yang tahan terhadap terpaan gelombang perubahan sosial, politik, ekonomi bahkan perubahan zaman sekalipun. Pesantren dapat dikatakan sebagai benteng pendidikan masyarakat yang telah teruji oleh zaman sekaligus sebagai wahana pengembangan masyarakat yang menyentuh pemenuhan dan pengembangan kualitas hidup warga masyarakat di sekitar pesantren.
Peranan pesantren sebagai lembaga yang mengembangkan nilai-nilai moral spiritual, informasi, komunikasi timbal balik secara kultural dengan  masyarakatnya dan tempat pemupukan solidaritas umat. Dengan demikian pesantren memiliki karakteristik antara lain: 1) pesantren sebagai lembaga tradisionalisme, 2) pesantren sebagai pertahanan budaya (cultural resistance), 3) pesantren sebagai pendidikan keagamaan. Berlandaskan pada nilai-nilai dasariah agama tersebut maka pesantren diidealisasikan sebagai fasilitator, dinamisator dan katalisator bagi pembangunan masyarakat, sebagaimana tujuan utama pembangunan nasional, yakni membangun manusia seutuhnya.dalam hal ini diharapkan pesantren menjadi pioneer dan media untuk mengembangkan dan memberdayakan sumber daya masyarakat, baik komunitas internal pesantren maupun masyarakat sekitar pesantren pada umumnya.
Pada era globalisasi ini, peran strategis PAI dan merupakan tantangan masa depan, sepatutnya para stake holder di dunia pendidikan Islam perlu menyamakan persepsi dan menyatukan langkah dengan lebih menyadari pentingnya reorientasi tujuan pendidikan Islam yang lebih menyentuh pada aspek perilaku anak didik (ranah psikomotorik dan afektif), tanpa meninggalkan aspek penguasaan ilmu pengetahuan (ranah kognitif)nya. Untuk itu, mengoptimalkan pendidikan nilai di dalam pendidikan Islam merupakan salah satu opsi terbaik dalam rangka menyelaraskan tujuan pendidikan (Islam) dengan tantangan masyarakat global, disamping itu untuk memperkuat dasar moral Islam dalam setiap penyelenggaraan pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah sampai tingkat pendidikan tinggi diharapkan luaran (out put) dari dunia pendidikan memiliki fondasi spiritual-keagamaan yang semakin kokoh dalam menghadapi dampat globalisasi yang multi kompleks dan multi implikasi, baik pada dimensi informasi dan komunikasi, ekonomi, hukum, politik, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama. Dengan demikian sangat diperlukan pembangunan intelektual muslim ideal masa depan sebagai generasi “Ulul Albab” yakni: 1) beriman dan bertaqwa, 2) Afifah dalam perbuatannya, menjaga diri dari hal-hal yang akan merusak atau mengurangi nilai iman dan taqwa dengan memelihara moralitas dengan menggunakan nalar sehatnya, 3) bertanggungjwab dan berjiwa amanah dalam setiap perbuatannya.
Kelebihan Buku: Menurut saya secara garis besar buku ini telah menjawab sebagian politik pendidikan Islam saat ini diantaranya peran politik untuk memajukan pendidikan di lingkup lembaga pendidikan Islam pesantren yang berakar budaya dan mengikuti perubahan zaman seiring dengan adanya Era globalisasi sehingga pendidikan Islam dalam eksistensinya sebagai dampak positif dan merupakan komponen pembangunan bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Pendapat berbagai macam ahli pendidikan Islam disajikan pula dengan seimbang, tanpa menjustifikasi siapa yang terbaik. Pembaca diajak untuk memahami masalah yang terjadi, menelaahnya dan disajikan beberapa alternatif wacana penyelesaian masalah tersebut, sehingga pembaca dapat memahami buku ini dengan runtut sesuai kondisi pada saat sekarang.

Kekurangan Buku: Rupanya agak sulit bagi saya mencari cela dimana kekurangan dari buku ini, akan tetapi tentunya semua tidak ada yang sempurna. Dari hasil bacaan saya, dalam buku ini terdapat berbagai pengulangan kata-kata bahkan paragraf yang berisi pokok pikiran yang sama diberbagai macam bab. Sehingga terkesan ada kejenuhan, karena bacaan antara bab sebelumnya dan yang sesudahnya masih dalam pembahasan yang sama. Alternatif solusi yang ditawarkan dalam buku ini pun masih bersifat global dan belum menspesifikkan secara mendetail tentang langkah-langkah yang hendak dijalankan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar