Rabu, 26 November 2014
Menggunjing
Nabi Muhammad S.A.W. pernah mengatakan kepada para sahabatnya tentang hukum menggunjing, menggunjing itu sama sekali tidak diperbolehkan dalam agama islam, karena hukumnya sangat berat. Bagaimanakah yang disebut dengan menggunjing itu ya Rasulullah ?, salah seorang sahabat bertanya :
Rasulullah menjelaskan, bahwa yang dikatakan menggunjing/ghibah adalah membicarakan kejelekan orang lain meskipun itu adalah kebenarannya, contoh : kita menyebutkan bahwa celananya si fulan itu terlalu panjang, atau bajunya si fulan itu terlalu norak, itu sudah termasuk ghibah meskipun itu adalah suatu kebenaran, namun jika itu adalah suatu kesaahan atau tidak benar keberadaannya maka kita telah memfitnah padahal fitnah pun tidak diperbolehkan dalam ajaran agama kita.
Bagaimanakah hukumnya orang yang melakukan ghibah ya rasulullah ?, tanya sahabat yang lain..
Rasulullah menjelaskan, bahwa hukum gibah adalah tidak diperbolehkan karena dosanya lebih besar dari pada berzina (sama saja besarnya dengan kita melakukan perbuatan berzina dengan ibu/bapak kandung kita sendiri lebih dari 33 x.... (Masya allah)) dan dijelaskan lagi bahwa zina dapat diampunkan dosanya jika kita bertobat kepada Allah, namun ghibah baru dapat dihapuskan dosanya setelah kita minta ampun kepada allah (Habluminallah) dan meminta maaf kepada orang yang kita gunjingi (Habluminallah dan habluminannas).
Bagaimanakah cara kita bertobat jika kita telah melakukan ghibah ya rasulullah ?, tanya para sahabat...
Rasulullah menceritakan kisah seorang mukmin yang melakukan ghibah pada saat dia akan dihisab, " Seorang mukmin yang sangat taat sekali terhadap Allah S.W.T yang membuat para malaikat kagum kepadanya saat hidupnya di dunia meninggal dunia, namun pada saat hisab ia tidak dapat langsung memperoleh timbangan amalnya dikarenakan tanpa ia sadari ia telah melakukan ghibah terhadap orang lain, ia hanya dapat dihisab setelah ia meminta maaf kepada orang tersebut dan hanya dapat dilakukan setelah orang tersebut meninggal dan menjumpainya di akhirat, pada akhirnya orang yang ditungu meninggal dan ia meminta maaf dengan memberikan amalan-amalan baik yang etlha diperbuatnya di dunia, namun apa yang terjadi amalan tersebut tidak mencukupi maka akhirnya ia menerima segala dosa yang diperbuat oleh orang tersebut, dan akhirnya orang yang beriman tadi masuk neraka dengan kecerobohannnya sendiri" (Nauzubillahi min zalik)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar