Lantunan
detik dari waktu yang berjalan terdengar berirama ditelinga. Kerikil dan
pasir jalanan seakan berbisik meski tak
disadari keberadaanya. Awan berarak membawa lukisan sederhana dari biru dan
putih terlewatkan oleh insan yang tengah beradu dengan terik matahari.
Seperti
hari biasanya ia sudah berdiri dipinggir trotoar menunggu si merah datang.
Wajahnya kian kusam akibat terpaan asap kendaraan, panas mentari, dan debu
jalanan yang sudah akrab dengan hidupnya. Jaket lusuh yang dulunya bagus dan
menambah penampianya menjadi tambah keren kini masih setia melindungi kulit
tubuhnya.
“Sudah
kau pikirkan?” seorang lelaki yang rapi berdasi membuyarkan lamunannya ditepi
jalan. Sudah tiga sore lelaki itu datang mencarinya untuk memberi sebungkus
nasi serta air minum. Tapi kata-kata lelaki itu menjadikannya tak selera untuk
memakannya.
“ Sudah ”,
dia pergi dengan gitarnya menuju deretan mobil dilampu merah.
“Apa
masih kurang? jangan keras kepala, anak muda”. Sambil berteriak orang itu
meninggalkannya.
Setiap
hari harus bertempur melawan asap kendaraan, panas, lelah, tapi tidak
menggoyahkan janji yang telah diucapkan pada dirinya sendiri dalam luka batin yang
menerpa hidupnya. Meski ia tak mampu membeli pakaian bagus dan bahkan mati
kelaparan. Dia rela menjauh, tapi tidak untuk menjual cintanya demi harta.
Tak
terasa 3 tahun sudah ia hidup sebagai anak jalanan yang tak tentu tempat
tinggal dan makannya. Sebelumnya ia berasal dari keluarga yang berkecukupan,
apapun yang ia ingini dapat dimilikinya. Makan 3x sehari, mobil, sekolah,
memanggil ayah atau ibu, bahkan dimarahi orang tuapun kini telah menjadi
kerinduan baginya.
**************
Dibawah
rindang pohon dan hembusan angin seorang tengah duduk wanita cantik, wajahnya
yg bulat telur secara keseluruhan tampak
proposional. Apa bila digambar,bagian rahangnya akan membutuhkan goresan lebih
kuat. Dagu dan tulang pipinya membuat rahang itu tampak luwes juga. Hidungnya
ibarat buah jambu air dibelah dua, sorot matanya teduh, tarikan bibirnya yang
menawan. Sungguh estetik.. Meta, begitu Jack yang tengah duduk bersandar pohon
berdampingan memanggilnya.
Meta
adalah anak tunggal dari juragan Coky yang sudah dua bulan ini berpacaran
dengan Jack. jurangan Coky sangat melarang hubungan mereka, dan selalu membujuk
Jack agar mau menjahui putri semata wayangnya. Namun semua itu dilakukan sang
ayah tanpa sepengetahuan Meta.
“
Jack..Jack...”
Sambil
mengelus pipi dan sedikit menggoyangkan tubuh kekasihnya Meta membangunkan Jack
yg telah terlelap dipangkuannya.
“ iya,sayang.. ada apa..?? “ dengan sedikit menggumam
siJack menyahut.
Metapun menunjukkan sms yg masuk dari handphone milik
Jack, “ Kamu ditunggu didepan gang Precil, tanpa nama,ay.. Sekalian aku mau
pamit, udah sore”.
Mobil warna ungu yang dinaiki siMeta
tlah melintas menininggalkannya. Tanpa buang waktu dan dengan mengucek mata sejenak
Jack melangkahkan kakinya menuju gang Precil.
“ Siapa ya dan ada perlu apa..?? “
Pertanyaan itulah yg timbul dlm hati Jack selama
perjalanan.
“ Jack, ada yang mencarimu “ tegur salah satu teman
jalanan Jack ketika ia sedang membungkuk mengambil putung rokok lalu menyalakan
putung rokok yang kelihatanya masih baru dibuang pemiliknya.
“ Makasih,boy..” sembari menepuk pundak temennya dia
mlajutkan berjalan menuju tempat yang dimaksud.
Sesampainya
di depan gang Jack tak melihat tanda-tanda ada orang yang menunggu dirinya.
“Assem”, lemah dia berucap sambil celingukan mecari orang yang tadi mengirim
sms. Matahari kian tenggelam, lampu-lampu jalanan kini memancarkan sinarnya.
Terjenuh orang yang dicarinya tak menampakkan tanda-tanda
akan kehadirannya, dia pun duduk dan muali menggenjreng gitar yang selalu
menemani sambil bernyanyi dengan sesekali menghembus asap dari bibir yang kian
menghitam.
Lelah
bernyanyi, tanganpun lemah memetik senar tuk memantulkan nada dia tersadar
sambil memangku gitar kesayangannya. Angin menyapa tubuh ceking berbalut jaket
lusuh dingin terasa membawa terbang sebuah lamunan masa lalu. “ Anak muda “,
suara tegas tersebut telah membuyarkan lamunan Jack, diapun terperangah dan
mencari arah suara yang terdengar dari belakangnya. Matanya menemukan sesosok
orang dengan setelan jas rapi dan 3 orang bebadan besar dan tegap mengawal
juragan Coky. “bagaimana anak muda?” sambil melemparkan cek kosong dan
memberinya dengan sebuah pena agar Jack menuliskan berapa nominal yang dia
inginkan.
Jack
mengambil cek kosong yang tertumpang diatas kakinya dan menerima pena dari
juragan Coky. Jack menulis dicek tersebut lalu diberikan kepada lelaki itu,
GAN,COK SEBAIKNYA TANYA PUTRIMU..!!. “permisi”, Jack melangkahkan kakinya dan
beranjak pergi meninggalkan orang-orang yang baginya sangat mengusik
ketentramannya.
***********
ZeinAverroes
Seip jek jan gaul...
BalasHapusyuhuuuuuuuuu............
BalasHapus