Rabu, 19 Maret 2014

Dibandrol Gan,Cok



            Lantunan detik dari waktu yang berjalan terdengar berirama ditelinga. Kerikil dan pasir  jalanan seakan berbisik meski tak disadari keberadaanya. Awan berarak membawa lukisan sederhana dari biru dan putih terlewatkan oleh insan yang tengah beradu dengan terik matahari.
            Seperti hari biasanya ia sudah berdiri dipinggir trotoar menunggu si merah datang. Wajahnya kian kusam akibat terpaan asap kendaraan, panas mentari, dan debu jalanan yang sudah akrab dengan hidupnya. Jaket lusuh yang dulunya bagus dan menambah penampianya menjadi tambah keren kini masih setia melindungi kulit tubuhnya.
            “Sudah kau pikirkan?” seorang lelaki yang rapi berdasi membuyarkan lamunannya ditepi jalan. Sudah tiga sore lelaki itu datang mencarinya untuk memberi sebungkus nasi serta air minum. Tapi kata-kata lelaki itu menjadikannya tak selera untuk memakannya.
            “ Sudah ”, dia pergi dengan gitarnya menuju deretan mobil dilampu merah.
            “Apa masih kurang? jangan keras kepala, anak muda”. Sambil berteriak orang itu meninggalkannya.
            Setiap hari harus bertempur melawan asap kendaraan, panas, lelah, tapi tidak menggoyahkan janji yang telah diucapkan pada dirinya sendiri dalam luka batin yang menerpa hidupnya. Meski ia tak mampu membeli pakaian bagus dan bahkan mati kelaparan. Dia rela menjauh, tapi tidak untuk menjual cintanya demi harta.
            Tak terasa 3 tahun sudah ia hidup sebagai anak jalanan yang tak tentu tempat tinggal dan makannya. Sebelumnya ia berasal dari keluarga yang berkecukupan, apapun yang ia ingini dapat dimilikinya. Makan 3x sehari, mobil, sekolah, memanggil ayah atau ibu, bahkan dimarahi orang tuapun kini telah menjadi kerinduan baginya.
**************
            Dibawah rindang pohon dan hembusan angin seorang tengah duduk wanita cantik, wajahnya yg bulat telur secara keseluruhan  tampak proposional. Apa bila digambar,bagian rahangnya akan membutuhkan goresan lebih kuat. Dagu dan tulang pipinya membuat rahang itu tampak luwes juga. Hidungnya ibarat buah jambu air dibelah dua, sorot matanya teduh, tarikan bibirnya yang menawan. Sungguh estetik.. Meta, begitu Jack yang tengah duduk bersandar pohon berdampingan memanggilnya.
            Meta adalah anak tunggal dari juragan Coky yang sudah dua bulan ini berpacaran dengan Jack. jurangan Coky sangat melarang hubungan mereka, dan selalu membujuk Jack agar mau menjahui putri semata wayangnya. Namun semua itu dilakukan sang ayah tanpa sepengetahuan Meta.
            “ Jack..Jack...”
            Sambil mengelus pipi dan sedikit menggoyangkan tubuh kekasihnya Meta membangunkan Jack yg telah terlelap dipangkuannya.
“ iya,sayang.. ada apa..?? “ dengan sedikit menggumam siJack menyahut.
Metapun menunjukkan sms yg masuk dari handphone milik Jack, “ Kamu ditunggu didepan gang Precil, tanpa nama,ay.. Sekalian aku mau pamit, udah sore”.
            Mobil warna ungu yang dinaiki siMeta tlah melintas menininggalkannya. Tanpa buang waktu dan dengan mengucek mata sejenak Jack melangkahkan kakinya menuju gang Precil.
“ Siapa ya dan ada perlu apa..?? “
Pertanyaan itulah yg timbul dlm hati Jack selama perjalanan.
“ Jack, ada yang mencarimu “ tegur salah satu teman jalanan Jack ketika ia sedang membungkuk mengambil putung rokok lalu menyalakan putung rokok yang kelihatanya masih baru dibuang pemiliknya.
“ Makasih,boy..” sembari menepuk pundak temennya dia mlajutkan berjalan menuju tempat yang dimaksud.
            Sesampainya di depan gang Jack tak melihat tanda-tanda ada orang yang menunggu dirinya. “Assem”, lemah dia berucap sambil celingukan mecari orang yang tadi mengirim sms. Matahari kian tenggelam, lampu-lampu jalanan kini memancarkan sinarnya.
Terjenuh orang yang dicarinya tak menampakkan tanda-tanda akan kehadirannya, dia pun duduk dan muali menggenjreng gitar yang selalu menemani sambil bernyanyi dengan sesekali menghembus asap dari bibir yang kian menghitam.
            Lelah bernyanyi, tanganpun lemah memetik senar tuk memantulkan nada dia tersadar sambil memangku gitar kesayangannya. Angin menyapa tubuh ceking berbalut jaket lusuh dingin terasa membawa terbang sebuah lamunan masa lalu. “ Anak muda “, suara tegas tersebut telah membuyarkan lamunan Jack, diapun terperangah dan mencari arah suara yang terdengar dari belakangnya. Matanya menemukan sesosok orang dengan setelan jas rapi dan 3 orang bebadan besar dan tegap mengawal juragan Coky. “bagaimana anak muda?” sambil melemparkan cek kosong dan memberinya dengan sebuah pena agar Jack menuliskan berapa nominal yang dia inginkan.
            Jack mengambil cek kosong yang tertumpang diatas kakinya dan menerima pena dari juragan Coky. Jack menulis dicek tersebut lalu diberikan kepada lelaki itu, GAN,COK SEBAIKNYA TANYA PUTRIMU..!!. “permisi”, Jack melangkahkan kakinya dan beranjak pergi meninggalkan orang-orang yang baginya sangat mengusik ketentramannya.
***********
ZeinAverroes

2 komentar: