Rabu, 26 November 2014

Korban PHP




Seger, Din..??,
Mardi bertanya sambil sambil menepuk pundak si Udin yang lagi menikmati asap tembakau bergulung kertas putih beraroma kenikmatan,menurutnya.
“ iiyyoi..”,, jawab Udin sedikit melompat karena kaget. Derap detak jantungnya seketika mmbuat tubuhnya gemetaran.
Merekapun duduk – duduk santai menikmati semilir angin sore diteras kantor tempat mereka bekerja, yeah itung – itung meresapi lelah serta letih setelah seharian bekerja.
Sinar mentari perlahan mulai meredup terhalang gununung maupun pepohonan yang menandakan hari mulai malam. “ Udah mulai gelap, Din,, aku tak pulang dulu ke kontrakanku yo..”. Karena nanti malam Mardi ada acara bareng temen – temen kontrakannya , Mardi pun segera beranjak pulang tinggalkan si Udin yang tak jemu – jemu mendiangi mulutnya dengan asap tembakau.
“Oke,croy.. ati – ati..”, jawab udin sambil lirih mulutnya berkecap kecut serasa lagi ada sesuatu yang membebani pikirannya.
“ Ngopi wae lah..”, kata udin dalam hati.
Merasakan sesuatu yang ganjil dalam hati dan pikirannya, udin merasa enggan untuk langsung pulang. Dia memutuskan untuk ngopi dulu dari pada ntar nyampek rumah sendirian dan alhasil imajinasi membumbung gak jelas. Diapun memacu kebut scooter bututnya susuri jalanan menuju warkop biasa tempat ia nyantai,berdiskusi, bertukar pikiran, atau sekedar bencanda ria bersama teman – teman sesama karyawan sepulang bekekerja.
Setibanya diwarkop langganannyaitu ternyata ternyata Kosim dan Supeno sudah duduk menikmati kopi sambil bercakap – cakap ria. “ Ehh,, Udin.. Sampean dari mana, di sms kok ra di bales.. “, tegur Supeno yang memang dari tadi ngajak ngopi karena ada hal yang harus dibicarakan.
Melihat Udin Nampak cengar – cengir raut mukanya Kosimpun menimpali, “ ketemuan ama  khotimah, paling.. “
“ Jambu kluthuk..!!,, Mak, kopi.. “. Udin memesan kopi dan segera bergabung dengan mereka.
“ Ono opo, croy..?? “, sambil memposisikan pantatnya ke tempat yang pas dan nyaman, Udin bertanya pada mereka.
Merekapun kembali melanjutkan apa yang sudah diobrolkan Kosim dan Supeno. “ Langsung saja yo.. Jadi begini, waktu itu kan kan atasan kita Pak Anom selaku staff direktur pernah dawuh kalau para karyawan ataupun ketua karyawan dipersilahkan menempati ruangan sebelah utara kantor itu sebagai tempat rapat karyawan atau sekedar ngumpul dan beristirahat kita – kita ini to..?? “, tutur Kosim dengan nada yang agak meninggi yang kemudian dilanjut ama Supeno, “ tapi kahanane, rungan itu sekarang ditempati orang lain yang bukan karyawan klihatannya. Malah barang – barangku yang sudah ku taruh disana, semalam ku lihat kondisinya mengenaskan berserakan dipelataran..!! “. Sahut Supeno agak kesal.
“ Nah,,ngunu kuwi lho critane kie, Din.. Gek pie perasaanmu..?? “, Tanya Kosim sedikit geram.
Udin menghela nafas dan menyeruput kopinya kemuadian menghisap dalam – dalam rokoknya. “ Uhuk..uhhuk..crits…. Aku ngrungokne omonganmu kog tansoyo mumet.. “. Si Udin terbatuk  lalu berucap sambil menggelengkan kepalanya.
“ Haaahhhhhhhhhh….?? “, bebarengan Kosim dan Supeno menepuk dahi mereka, mulut mereka menganga dengan mata melotot merah menatap si Udin.
“ hehe.. Lha pancen aku ini lagi bingung to,croy.. Dulu aku pernah diberi harapan pak Ngadeni, bapaknya Khotimah pacarku itu lho. Beliau dawuh begini ke aku, kalau aku akan diminta pindah kerja diperusahnan miliknya yang lebih gede dari tempat kerjaku sekarang apabila akunya nanti jadi nikah sama Khotimah. Lha kog ternyata si Khotim malah dijodohin dengan pria lain, yang kabarnya pemegang perusahaan milik pak Ngadeni itu. Tapi aku ra po po, mungkin wae pria itu lebih menjamin dari pada aku.. “. Keluh Udin sedikit tertawa menahan amarahnya.
“ Byuuhhh,,, jadi kita ini sama – sama korban PHP donk..”, celutuk Supeno yang membuat lainnya tersentak.
“ Opo kuwi PHP..??”, Tanya Kosim keheranan.
“ PHP yo iku Pemberi Harapan Palsu “. Jawab Supeno sambil cekikikan dan diikuti tawa dari keduanya.
Hening seketika suasana petang itu. Ketiga gelas kopi didepan merekapun terlihat asat.
Udin mencoba memecah keheningan dan berucap, “ achh sudah lah,croy.. syukuri apa adanya saja, sabar, dan kita lapangkan dada..”
Supeno dan Kosim menyahut, “ yo dadane khotim kuwiiiiiiiii…!!””
Hwa..hwa..ha…haaiiikkkss….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar