Seger,
Din..??,
Mardi
bertanya sambil sambil menepuk pundak si Udin yang lagi menikmati asap tembakau
bergulung kertas putih beraroma kenikmatan,menurutnya.
“ iiyyoi..”,,
jawab Udin sedikit melompat karena kaget. Derap detak jantungnya seketika
mmbuat tubuhnya gemetaran.
Merekapun
duduk – duduk santai menikmati semilir angin sore diteras kantor tempat mereka
bekerja, yeah itung – itung meresapi lelah serta letih setelah seharian
bekerja.
Sinar
mentari perlahan mulai meredup terhalang gununung maupun pepohonan yang
menandakan hari mulai malam. “ Udah mulai gelap, Din,, aku tak pulang dulu ke
kontrakanku yo..”. Karena nanti malam Mardi ada acara bareng temen – temen
kontrakannya , Mardi pun segera beranjak pulang tinggalkan si Udin yang tak
jemu – jemu mendiangi mulutnya dengan asap tembakau.
“Oke,croy..
ati – ati..”, jawab udin sambil lirih mulutnya berkecap kecut serasa lagi ada
sesuatu yang membebani pikirannya.
“
Ngopi wae lah..”, kata udin dalam hati.
Merasakan
sesuatu yang ganjil dalam hati dan pikirannya, udin merasa enggan untuk
langsung pulang. Dia memutuskan untuk ngopi dulu dari pada ntar nyampek rumah
sendirian dan alhasil imajinasi membumbung gak jelas. Diapun memacu kebut
scooter bututnya susuri jalanan menuju warkop biasa tempat ia
nyantai,berdiskusi, bertukar pikiran, atau sekedar bencanda ria bersama teman –
teman sesama karyawan sepulang bekekerja.
Setibanya
diwarkop langganannyaitu ternyata ternyata Kosim dan Supeno sudah duduk
menikmati kopi sambil bercakap – cakap ria. “ Ehh,, Udin.. Sampean dari mana,
di sms kok ra di bales.. “, tegur Supeno yang memang dari tadi ngajak ngopi
karena ada hal yang harus dibicarakan.
Melihat
Udin Nampak cengar – cengir raut mukanya Kosimpun menimpali, “ ketemuan
ama khotimah, paling.. “
“
Jambu kluthuk..!!,, Mak, kopi.. “. Udin memesan kopi dan segera bergabung
dengan mereka.
“
Ono opo, croy..?? “, sambil memposisikan pantatnya ke tempat yang pas dan
nyaman, Udin bertanya pada mereka.
Merekapun
kembali melanjutkan apa yang sudah diobrolkan Kosim dan Supeno. “ Langsung saja
yo.. Jadi begini, waktu itu kan kan atasan kita Pak Anom selaku staff direktur
pernah dawuh kalau para karyawan ataupun ketua karyawan dipersilahkan menempati
ruangan sebelah utara kantor itu sebagai tempat rapat karyawan atau sekedar
ngumpul dan beristirahat kita – kita ini to..?? “, tutur Kosim dengan nada yang
agak meninggi yang kemudian dilanjut ama Supeno, “ tapi kahanane, rungan itu
sekarang ditempati orang lain yang bukan karyawan klihatannya. Malah barang –
barangku yang sudah ku taruh disana, semalam ku lihat kondisinya mengenaskan
berserakan dipelataran..!! “. Sahut Supeno agak kesal.
“
Nah,,ngunu kuwi lho critane kie, Din.. Gek pie perasaanmu..?? “, Tanya Kosim
sedikit geram.
Udin
menghela nafas dan menyeruput kopinya kemuadian menghisap dalam – dalam
rokoknya. “ Uhuk..uhhuk..crits…. Aku ngrungokne omonganmu kog tansoyo mumet..
“. Si Udin terbatuk lalu berucap sambil
menggelengkan kepalanya.
“
Haaahhhhhhhhhh….?? “, bebarengan Kosim dan Supeno menepuk dahi mereka, mulut
mereka menganga dengan mata melotot merah menatap si Udin.
“
hehe.. Lha pancen aku ini lagi bingung to,croy.. Dulu aku pernah diberi harapan
pak Ngadeni, bapaknya Khotimah pacarku itu lho. Beliau dawuh begini ke aku,
kalau aku akan diminta pindah kerja diperusahnan miliknya yang lebih gede dari
tempat kerjaku sekarang apabila akunya nanti jadi nikah sama Khotimah. Lha kog
ternyata si Khotim malah dijodohin dengan pria lain, yang kabarnya pemegang
perusahaan milik pak Ngadeni itu. Tapi aku ra po po, mungkin wae pria itu lebih
menjamin dari pada aku.. “. Keluh Udin sedikit tertawa menahan amarahnya.
“
Byuuhhh,,, jadi kita ini sama – sama korban PHP donk..”, celutuk Supeno yang
membuat lainnya tersentak.
“
Opo kuwi PHP..??”, Tanya Kosim keheranan.
“
PHP yo iku Pemberi Harapan Palsu “. Jawab Supeno sambil cekikikan dan diikuti
tawa dari keduanya.
Hening
seketika suasana petang itu. Ketiga gelas kopi didepan merekapun terlihat asat.
Udin
mencoba memecah keheningan dan berucap, “ achh sudah lah,croy.. syukuri apa
adanya saja, sabar, dan kita lapangkan dada..”
Supeno
dan Kosim menyahut, “ yo dadane khotim kuwiiiiiiiii…!!””
Hwa..hwa..ha…haaiiikkkss….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar